Usaha Petani Nanas Badau Tetap Konsisten

Usaha Petani Nanas Badau Tetap Konsisten

Badau, Media Center– Sukardi, petani nanas di desa Badau yang sudah bertanam nanam selama hampir 30 tahun. Dirinya mengaku budaya berkebun nanas sudah dilakukan secara turun temurun oleh orang tuanya.

Saat ini Sukardi memiliki lahan perkebunan nanas seluas 2 hektar, tanpa diselingi tanaman lainnya. Sukardi mengaku sempat beralih bertani lada. Namun karena dinilai tidak sukses dirinya memutuskan kembali berkebun nanas.

“Pernah juak nanam sahang tapi dak berhasil,”pungkas Sukardi saat di wawancarai di kebunnya pada rabu (10/07/2019).

Badau memang terkenal dengan daerah sentra perkebunan nanas di Belitung. Sukardi bahkan menyebutkan bahwa dulu di Badau sering melakukan panen raya, saat masyarakat setempat masih ramai bertanam nanas. Namun banyaknya pilihan profesi lain membuat usaha ini kian ditinggalkan

Sukardi menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir hanya ada separuh petani nanas Badau yang bertahan. Peralihan dari pertanian ke pertambangan menjadi penyebab para petani enggan melanjutkan bertanam nanas.

“Setahu aku seh agik urang 7an lah disinek,”imbuh Sukardi.

Meski demikian, Sukardi menyebutkan bahwa harga nanas di pasaran cukup bersahabat. Satu buah nanas ukuran sedang biasa terjual dengan harga Rp10000 hingga Rp12000. (Arlan/IKP)

Sumber: https://mediacenter.belitung.go.id/

badau@belitung.go.id

badau@belitung.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + 14 =